Bagaimana cara menghitung pembagian waris jika seorang pria non muslim meninggal dunia meninggalkan ahli waris istri dan dua anak?

Untuk diketahui, dasar perhitungan waris dari masalah diatas telah diatur pada Pasal 852 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang berbunyi:

Pasal 852
“Anak-anak atau keturunan-keturunan, sekalipun dilahirkan dan berbagai perkawinan, mewarisi harta peninggalan para orangtua mereka, kakek dan nenek mereka, atau keluarga-keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, tanpa membedakan jenis kelamin atau kelahiran yang lebih dulu.

Mereka mewarisi bagian-bagian yang sama besarnya kepala demi kepala, bila dengan yang meninggal mereka semua bertalian keluarga dalam derajat pertama dan masing-masing berhak karena dirinya sendiri; mereka mewarisi pancang demi pancang, bila mereka semua atas sebagian mewarisi sebagai pengganti.”

Dari pasal diatas menjelaskan bahwa para anak serta keturunan yang sah dari berbagai perkawinan memiliki hak untuk menerima waris dari harta peninggalan orang tua mereka dan para leluhur sedarahnya dalam garis keturunan keatas tanpa membedakan jenis kelamin dan usia. Bagian waris yang diterima oleh para anak dan para keturunan didasarkan pada cara perhitungan Kepala demi kepala dan pancang demi pancang.

Kepala Demi Kepala
Bagian Kepala Demi Kepala ini hanya dibagikan kepada Ahli waris dimana pembagiannya langsung dibagi secara rata untuk seluruh ahli warisnya.

Contoh:
Jika P meninggalkan satu orang istri (A) dan 2 orang anak (B dan C), maka masing-masing ahli waris tersebut akan mendapat harta waris yang dibagi rata, yaitu masing-masing mendapatkan 1/3 bagian, karena terdapat total 3 ahli waris

Pancang Demi Pancang
Bagian Pancang Demi Pancang ini hanya dibagikan kepada keturunan yang menggantikan posisi ahli waris yang seharusnya mendapatkan bagian tersebut dan pembagiannya dibagi per pancang.

Contoh:
Jika (P) meninggalkan istri (A) beserta dua anak (B) dan (C). Namun ternyata C sudah meninggal lebih dahulu dan meninggalkan 3 anak (cucu dari J), yaitu D, E dan F.
Untuk menghitung bagian A dan anak pewaris yang masih hidup, yaitu B, maka penghitungan bagiannya harus turut mengikutsertakan keturunan dari si C sebagai ahli waris yang menggantikannya.

Berhubungan C sudah meninggal, maka bagian C yang sebesar 1/3 bagian akan dibagikan (D, E dan F secara rata atau dibagikan secara pancang demi pancang. Jadi ketiga anak dari C akan mendapat masing-masing 1/9 bagian (1/3 yang dibagi 3).

Ingin mengajukan pertanyaan dan konsultasi mengenai Hukum keluarga dan Waris? Kami siap membantu Anda. Silakan hubungi Kantorpengacara.co di (+62) 812-9797-0522 atau email ke: info@kantorpengacara.co

Author :
Triadi Surya Iqbal

 
Fairus Harris Senior Associate
Halo, ada yang bisa saya bantu?